...
Purpose

Harga
Rp. 45.000

1

Deskripsi

Alamanda Shantika Santoso, namanya dikenal sejak ikut membesarkan Go-Jek Indonesia. Setelah menghabiskan beberapa tahun untuk berpindah dari satu startup ke startup lainnya, Alamanda menetap dan menjadi Vice President of Go-jek selama hampir 2 tahun. Pada Oktober 2016, publik dikejutkan dengan keputusannya untuk mundur dari Go-Jek. Rupanya, Alamanda memiliki mimpi dan visinya sendiri, sesuatu yang dia angankan sejak kecil: berkecimpung di dunia edukasi untuk berbagi ilmu, terutama membagikan ilmu yang sudah dia dapat di Go-Jek untuk membantu mewujudkan Indonesia digital. Alamanda kini mendirikan Binar Academy. Sebuah sekolah gratis dan terjangkau untuk mewujudkan visinya mengevolusi dunia pendidikan serta membentuk ekosistem digital di Indonesia. Binar Academy bertujuan mencetak para penerus digital Indonesia yang berkualitas hingga coder terbaik Indonesia.Melalui buku ini, kita diajak menelusuri pikiran seorang Alamanda. Tentang pendapatnya mengenai kehidupan. Tentangnya yang kini begitu getol menyebarkan arti pentingnya kolaborasi, menikmati proses tumbuh bersama, serta menjadikan empati sebagai kunci sukses untuk masa depaneberapa waktu lalu saat saya menjadi narasumber di salah satu acara televisi di Indonesia, ada yang cukup menarik. Di akhir wawancara, terdapat satu sesi ketika saya harus menjawab sejumlah pertanyaan secara spontan dengan satu atau dua kata saja. Sang pembawa acara melemparkan pertanyaan keempat kepada saya, “Mbak Ala, kalau dilahirkan kembali ingin jadi apa?”  Jawaban saya, “Mau jadi kodok.” Sontak satu ruangan terbahak-bahak. Kemudian saya bertanya, “Memang narasumber lain jawabnya apa?” Pembawa acara menjawab, “Biasanya mau jadi orang-orang hebat, seperti Barack Obama, Steve Jobs, dan lainnya. Mbak Ala memang lain, ya, dari yang lain. Pantas di salah satu quote-nya Mbak Ala bilang, ‘Jadi orang gila di antara orang waras, atau jadi orang waras di antara orang gila.”’ Ya, quote itu memang salah satu pesan Papa sewaktu saya masih kecil. Dan itu juga yang membuat saya memutuskan untuk menggambar burung hantu di lengan kanan. Arti burung hantu itu untuk saya sama seperti pesan Papa agar saya selalu mampu berpikir berbeda, sehingga bisa melihat hal yang tadinya tidak berguna menjadi berguna. Demikian pula seekor kodok. Bagi saya, kodok memiliki filosofi yang sangat berharga. Kodok bisa membuat lompatan jauh dari satu daun kecil ke daun lainnya tanpa takut. Hal ini mengingatkan saya untuk tidak terpenjara pikiran sendiri dan berani melakukan lompatan yang jauh. Kodok adalah lambang evolusi, mulai dari telur, kecebong yang hidup di air, sampai menjadi kodok. Artinya, sebuah perubahan harus melalui proses yang tidak instan. Proses evolusi tersebut juga membuat kodok mampu hidup di dua alam yang menjadikan ia penghubung antara kehidupan darat dan air. Kodok sering dilihat sebagai binatang yang menjijikkan atau binatang yang lemah. Namun, kodok bergerak sangat cepat. Di sini terdapat prinsip akselerasi yang sesuai dengan filosofi hidup saya. Walaupun dulu sering merasa kecil dan lemah, dengan akselerasi dan kecepatan mempelajari kehidupan, saya yakin akan menjadi kuat. Dari seekor kodok dan alam semesta, sesungguhnya ada banyak filosofi kehidupan dan pelajaran yang bisa direfleksikan ke dalam kehidupan—terutama kalau kita bisa mengamati dan menyadari pesan-pesan yang ada di baliknya. Bahkan, Wright Brothers pun membuat pesawat pertama mereka dengan mengambil inspirasi dari burung, mereka mengamati bagaimana bentuk sayap burung bekerja dengan aliran udara dan ketinggian, dan mengolah hasil pengamatan tersebut untuk menjadikan pesawat udara pertama mereka.Dalam sebuah kesempatan ketika sedang berbicara di depan forum, ada seseorang yang bertanya, “How to be Alamanda Shantika?” Sejenak saya terdiam ketika mendengar pertanyaan tersebut. Yang muncul kemudian adalah pertanyaan atas pertanyaan tersebut: Apa benar harus menjadi seperti Alamanda Shantika? Apa benar Alamanda Shantika ini pantas untuk ditiru? Sejenak kemudian, saya tersenyum karena membayangkan jawaban yang akan saya berikan.Ingatan saya seketika melompat ke masa saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Bersekolah di SMP Al-Azhar Kemang dan masuk kelas akselerasi ternyata ti-dak hanya mengajari saya untuk bersikap agamis dengan rajin shalat (karena harus, sekolahnya kan di Al-Azhar), tetapi juga malah membuat sisi brutal saya muncul. Bukan karena sekolahnya—Al-Azhar tidak bertanggung jawab atas brutalnya saya—melainkan karena memang jiwa muda saya yang secara pribadi mulai susah untuk diatur.Saya yang menginjak usia remaja lebih senang main dengan teman-teman dari sekolah lain. Di mata saya, teman-teman di kelas terlampau rajin belajar. Saya mulai belajar pacaran hingga belajar merokok ketika SMP. Sebagai ketua geng, saya ajari teman-teman sekelas untuk ikut merokok. Setiap menjelang ujian, saya paksa teman-teman untuk nongkrong dulu di skate park dekat sekolah atau main Counter Strike di warnet daripada segera pulang atau belajar kelompok.Saya juga selalu merasa bosan berada di kelas. Apalagi pada musim ujian, ketika murid-murid dari kelas lain bisa pulang lebih awal, sementara kelas saya masih harus tinggal di sekolah sampai sore.Pun pada masa sekolah menengah atas (SMA), saya menjadi semakin bengal. Dalam satu minggu, setidaknya akan ada satu hari saya tidak masuk sekolah. Dari rumah saya berangkat seperti biasa, pamit cium tangan ke Mama dan Papa. Namun, sampainya bisa saja ke mal atau bahkan ke Puncak, Bogor, bukan ke sekolah. Sekalipun saya hadir di kelas, ada dua kegiatan yang lebih sering saya kerjakan ketimbang mendengarkan guru di depan kelas. Dua kegiatan favorit saya tersebut adalah mengobrol atau tidur. Sampai suatu hari, guru Fisika mengusir saya keluar dari kelas karena saya terus mengobrol, padahal sudah berkali-kali ditegur.Senakal itu pun di sekolah, lucunya, saya kadang tetap mendapat permakluman dari para guru. Meski jarang mendengarkan pelajaran Fisika dan Matematika yang sebenarnya saya sukai itu, saya punya guru privat yang rutin dua kali seminggu mengajar di rumah. Saya mendapatkan momen belajar yang sesungguhnya pada sesi ini, sehingga apa yang saya dapat di sekolah boleh dibilang merupakan pengulangan dari hasil les privat. Jadi, sekesal-kesalnya guru Fisika itu, saya tetap diberi nilai 100 karena selalu bisa menjawab semua pertanyaan. Sekesal-kesalnya beliau, tetap saya dikirim untuk menjadi perwakilan sekolah jika ada olimpiade sains. Saya merasa bahwa saya yang sekarang adalah hasil akumulasi dari berbagai kejadian yang pernah saya lewati. Sewaktu masih kecil, saya memang lumayan nerd. Segala macam les saya ikuti. Mulai dari les matematika, aritmatika, sampai yang agak unik seperti les menghafal, saya hadiri dengan senang hati. Di rumah, Papa sudah mengajarkan ratusan tambah ratusan ketika saya masih 4 tahun. Pada tahun berikutnya, saya sudah bisa menghafal perkalian dari deret angka 20 x 20 dalam waktu lima menit. Mungkin, Papa yang mengajarkan tambah-tambahan, berbagai les yang saya ikuti, hingga mobil-mobilan yang saya beli secara diam-diam untuk dibongkar adalah babak pembuka dari jejak batu yang saya tinggalkan untuk diri sendiri. Karena di batu selanjutnya, komputer pertama yang saya dapatkan saat berusia 11 tahun juga tidak lepas dari rasa penasaran, “Pasti ada sesuatu di dalamnya!” Menariknya, definisi kalimat “Pasti ada sesuatu di dalamnya!” pada komputer tidak sebatas berhenti di makna fisik si komputer yang saya bongkar, lalu saya keluarkan motherboard-nya itu. Komputer secara fungsi juga terus bermain dengan rasa penasaran saya yang kebetulan tidak cepat habis ini. Saya, yang terdidik untuk berpikir secara logic, juga punya sisi artsy dalam darah yang mengalir di tubuh. Sejak kami kecil, Mama sudah memperkenalkan kakak dan saya pada dunia seni. Kami diajari berbagai alat musik. Kami diberi kesempatan untuk mencoba memainkan piano, biola, hingga saksofon di tempat les musik. Di rumah, Mama menyediakan berbagai peralatan untuk melukis. Oleh orang tua, saya diberi kesempatan untuk mengeksplorasi diri sejak dini. Pun pada komputer pertama yang saya miliki. Setelah saya coba eksplorasi lebih dalam, komputer ter-nyata juga bisa mengakomodasi kegemaran saya dalam melukis. Lewat komputer, saya mulai belajar mendesain. Bermodal Internet yang baru masuk ke Indonesia dan komputer yang sudah pernah saya bongkar lalu saya rakit lagi (untung tidak saya jual), saya terus mengasah kemampuan mendesain. Bacaan-bacaan di Internet tentang dunia desain membuat rasa ingin tahu saya terus membuncah. Saya ingin tahu lebih dan lebih dalam lagi. Dari Internet juga saya akhirnya kenal dengan aplikasi Photoshop dan aplikasi-aplikasi lain sejenisnya. Secara autodidak, dari hari ke hari, saya terus memperbaharui diri. Saya terus menggali rasa ingin tahu sembari memberdayakan keyakinan, “Pasti ada sesuatu di dalamnya!” pada setiap hal baru yang saya temukan. Saya benar-benar menikmati proses ini. Salah satu poin penting dalam hidup saya adalah Papa yang berulang-ulang saya dengar sejak kecil. Katanya, “Kamu nggak boleh takut. Kamu harus menapaki hidup ini satu per satu, tetapi kamu harus lebih cepat menapakinya daripada orang lain. Kamu harus berlari!”

Teaser Beli

Penulis

Alamanda Shantika Santoso

Penerbit

Bentang B first